THE PRESIDENT
ikuti 100 persen. Di pintu masuk yang megah, Sutan disambut dengan amat terhormat. Johanes Tiro memperkenalkan diri, menyalami dan memeluknya dengan sangat hangat, seakan ia adalah sahabat lama yang lama tak jumpa.
”Tuan Sutan. Sudah lama saya mendengar nama besar Tuan, dengan puluhan perusahaan yang sangat likuid dan jutaan anggota keluarga besar usaha Tuan.”
Ia tersenyum.
”Wah... Tuan Johanes terlalu menyanjung. Usaha kami tak ada apa-apanya dibanding puluhan perusahaan Tuan yang omzetnya trilyunan setiap bulan. Setidaknya beban puluhan ribu buruh di perusahaan Tuan telah menunjukkan kelas Tuan. Mohon maaf kalau kedatangan saya terlambat sehingga mengganggu acara Tuan-Tuan di sini.”
Itulah kesan yang ia bayangkan ketika ia terkena macet yang parah di persimpangan Pasar Senen dari arah Cempaka Putih maupun di hampir sepanjang Jalan Gunung Sahari. Macet yang rutin terjadi meskipun gubernur silih berganti. Memang sih masih pukul 8 malam. Tetapi Johanes Tiro tak menampakkan ketergangguan sedikitpun atas keterlambatannya.
Johanes Tiro menarik tangan Sutan untuk masuk ruangan yang telah dipenuhitamu-tamu lainyang sebagian besar, tampak sebagai orang-orang bermata sipit alias keturunan Tionghoa. Mereka tampak sebagai orang-orang terdidik dari kalangan atas. Semua berdiri menyambut kedatangan Sutan dan disusul dengan tepuk tangan meriah yang menggema dalam ruangan terbatas tersebut. Sutan masih bertanya-tanya, ada apa ini gerangan. Sutan dipersilahkan duduk di samping Johanes Tiro, tuan rumah, dalam Pertemuan Meja Bundar yang diisi oleh 76 tokoh pengusaha nasional atau mungkin juga tokoh bidang lain.
Hal.9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar