Jumat, 19 Juli 2019

SUTAN
THE PRESIDENT

nyaris mengelilingi komplek kantor tersebut. Itupun tlngginy terbatas, hanya 3 lantai. 

Sutan dipersilahkan duduk di sebuah kursi berukir naga yang sedang bertarung melawan seekor elang besar. Meski kursinya berukuran biasa, tidak besar dan megah, tetapi ukiran tersebut memberikan kesan berwibawa pada kedua kursi yang sama dan sebangun itu, yang ditaruh berhadapan. Ukiran tersebut mengingatkan Sutan pada pertarungan Jatayu dengan Rahwana dalam dramaturgi Ramayana. Sutan duduk dengan santun sambil tetap mendengarkan suara seruling yang tetap bagai menghipnotisnya, setelah Satpam yang mengantarnya mohon diri. Tidak lama kemudian, suara seruling secara perlahan mengundurkan diri dari ruangan dan sayup-sayup menghilang dari pendengaran. Sungguh menggugah hati. Perlahan Johanes menolehkan wajahnya ke arah Sutan dengan wajah seperti biasanya, tersenyum. Sutan pun membalas dengan senyum dikulum.. 

”Seruling putih yang manis dengan suara yang merdu. Tuan memang luar biasa, di tengah kemelut yang Tuan sendiri rasakan ‘dengan perasaan pilu, Tuan masih sempat berkelindan dengan seruling sedemikian indahnya." 

Johanes tepekur sejenak. ”Dari mana Tuan tahu bahwa hati saya pilu?” 

”Dari senyum Tuan yang selalu hadir bersamaan dengan sorotmata Tuanyang selalu melukiskanharapanbila berhadapan dengan saya. Pada awalnya saya berharap, sorot mata berharap yang muncul itu hanya ilusi saya saja. Tetapi tak mungkin itu ilusi saya, bila setiap senyum Tuan selalu mengandung nuansa berharap. Dari nuansa berharap itulah saya menangkap kepiluan hati Tuan. Bukankah nada seruling barusan melukiskan kepiluan meski dibalut keindahan?” 
Hal.31

Tidak ada komentar:

Posting Komentar