THE PRESIDENT
Johanes terpaku mendengar pertanyaan yang menohok bagian terdalam kalbunya itu.
”Terima kasih Tuan Sutan. Tuan bagai pelipur lara. Tuan betul-betul bagai seorang malaikat bagi saya. Dua kali Tuan saya undang ke kantor sekaligus rumah saya ini, dua kali Tuan tidak menolak. Padahal Tuan memiliki status sosial lebih tinggi dari saya. Meski kekayaan saya jauh berlipat ganda dibanding kekayaan Tuan, tapi Tuan memiliki pengikut setia yang tak terukur bagi saya. Tuan memiliki jaringan bisnis ke akar rumput yang terdalam. Bagian tercetek pun dari yang Tuan miliki, tetap tak mungkin saya miliki. Bahkan Tuan juga memiliki jaringan sosial dan budaya yang luar biasa. Tuan dekat dan bergaul akrab dengan rakyat. Dekat dan bergaul akrab dengan budayawan dan seniman, dekat dan bergaul akrab bahkan dengan aktivis kemasyarakatan mana pun. Sungguh suatu rantai jaringan yang tak kan mungkin saya samai bahkan tak kan mungkin saya dekati jaraknya, sedekat yang saya inginkan sekalipun, dan dengan cara apapun. Dengan power yang sedemikian kuatnya, Tuan tak punya ambisi berkuasa baik secara politik maupun ekonomi. Tuan tak pernah mempergunakan power dan jaringan yang Tuan miliki ini bahkan untuk berhadapan dengan lawan kuat Tuan? Saya telah merasakannya. Dan merasakan juga manisnya berhubungan dengan Tuan.”
Sutan sungguh mati langkah, dipuji setinggi langit seperti ini. Sutan tak biasa menerima pujian, dan tak pernah mau. Bila ada bawahannya di koperasi yang memujinya berebihan menurutnya, maka ia langsung menegur bawahannya itu agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.
”Bagi orang dewasa, pujian tak pernah menghasilkan hal positif. Pujian hanya positif bagi anak-anak.” begitulah selalu alasannya. Anak-anak di sini, bisa juga berarti bawahan.
Hal.32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar